Anak Sumenep, Kendalikan 800 Apotek, 350 Klinik, dan 45 Lab Monday, 04 September 2017 02:54

 

Bangunan tua berdiri megah di Jalan Budi Utomo No. 1, Jakarta pusat. Tulisan Kimia Farma Apotek terpampang jelas di depan bangunan. Itu memang kantor perusahaan farmasi yang khusus bergerak di bidang apotek.

Layanan kesehatan yang diberikan Kimia Farma tersebar di seluruh Indonesia. Tercatat sekitar 800 outlet apotek, 350 klinik, dan 45 laboratorium klinik (lab) dikendalikan dari kantor ini.

CEO perusahaan BUMN itu adalah Imam Fathorrahman, alumnus Fakultas Farmasi, Unair, yang juga apoteker. Bapak empat anak ini mengawali karir di Kimia Farma pada 1990 di Surabaya. Dia mampu menunjukkan kinerja excellent. Tempat tugas yang berpindah-pindah dia jadikan penambah wawasan dan kemampuan. Dan, sampailah dia berlabuh di kantor pusat di Jakarta.

Sejak masuk Kimia Farma, Imam langsung merasa pas. Perusahaan tersebut  sesuai dengan passion-nya untuk memaksimalkan potensi.

Dia menanamkan harapan besar pada Kimia Farma apotek. Dia tertarik dan merasa tertantang seiring dengan bertambahnya tugas di perusahaan tersebut. Imam merasa tertantang dan terus berusaha agar dapat menyelenggarakan layanan kesehatan kepada masyarakat secara maksimal dan paripurna. 

Prinsipnya, semua orang di Kimia Farma harus selalu berusaha memenuhi keinginan seluruh stakeholder. Customer atau siapa saja agar benar-benar terlayani dengan baik. Hal itu sesuai dengan visi dan misi negara dalam mengupayakan masyarakat lebih sehat dan sejahtera.

Imam pribadi punya keinginan besar agar masalah kesehatan bisa diatasi secara maksimal. Kesehatan di sektor publik dan industri kesehatan bisa tertata dengan baik, mulai hulu sampai ke hilir. 

Aktivis HMI semasa kuliah itu menyebutkan bahwa perencanaan kesehatan bisa didesain sejak awal. Kalau seseorang ingin sehat, tentu ada step-step yang dijalani dan dipatuhi agar kesehatan tetap terjaga.

Ilmu dari Unair Fondasi Mengarungi Kehidupan

Pria berkacamata ini mengaku banyak memperoleh ilmu dari Unair. Ilmu pengetahuan tersebut sebagai fondasi dalam mengarungi kehidupan sampai berada di posisinya sekarang. Kata kuncinya adalah istikamah dan gigih.

Unair dirasakan telah menggemblengnya. Selain ilmu di bidang farmasi, kampus di Dharmawangsa Dalam itu ikut membangun karakternya. Termasuk, kemampuannya dalam leadership.

Selama kuliah, suami Rita Mahyona, apoteker yang bertugas di BPOM itu, pernah menjadi komting (komisaris tingkat) angkatan 1983, juga ketua BEM Farmasi.

Alumnus Unair, dalam pandangan Imam, punya kekhasan tersendiri dibanding lulusan universitas lain. Mereka kreatif, inovatif, dan cenderung out of the box.

Imam bukanlah orang yang menonjol di bidang akademik. Meski sempat  menjadi asisten di laboratorium Kimia analitik, nilainya tidak lebih unggul dari pada  mahasiswa lain. Baginya lebih nyaman memahami daripada harus menghafalkan setiap kalimat dalam pelajaran.

Unair memang punya tempat tersendiri di hati Imam. Buktinya, dua anaknya kuliah di unair. anak nomor dua di Fakultas Farmasi, sedang kan anak ketiga di Fakultas Kedokteran Gigi. Anak pertamanya di Fakultas Kedokteran UGM, dan si bungsu masih di bangku SD.

Sebagai alumnus Unair, Imam mengingatkan agar kampus  menghimpun kekuatan melalui jejaring alumni. apalagi, di era informasi terbuka seperti sekarang. Yang dibutuhkan adalah membangun networking dengan semua pihak, termasuk para alumni. Unair harus seperti alumninya, berpikir out of the box.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga