Menjadi Sahabat Bagi Konsumen Thursday, 14 September 2017 07:41

Mengaku sebagai orang yang fokus ke akademik, tak lantas membuat seorang Eni Purwanti tak berani terjun di dunia wirausaha. Bagi wanita yang fokus ke akademik terlibat dalam berbagai karya tulis, dan bahkan Pimnas tak lantas membuat Eni berkecil hati. Bahkan kini pun wirausaha seolah-olah menjadi bagian hidupnya  yang baru. Bagi Eni sosok seorang wirausaha adalah pribadi yang hebat. “Bagi saya, wirausaha itu pribadi yang sederhana tapi punya pribadi yang sangat kuat, kemauan kuat dan juga gigih terus dan juga usahanya itu mandiri. Pribadi yang bagus dan saya suka,” tuturnya.

Memulai bisnis di bidang kuliner, meskipun tanpa pengalaman yang bisa dibilang mumpuni tak membuat Eni mundur. Onigiri Food Management merupakan salah satu langkah awal gadis berkerudung ini untuk melangkah menjajal kehidupan di dunia wirausaha. Usaha yang dirintis sejak tahun 2011 ini merupakan salah satu usaha yang lahir dari Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) 2011 yang digerakkan oleh PPKK. Pada awal berdirinya usaha ini, Eni belum bergabung ke dalam Onigiri Food Management. Barulah pada tahun 2013 Eni bergabung dengan Onigiri Food Management.

Saat ini Onigiri Food

Management telah berkembang menjadi usaha catering. Sebelum berkembang ke bisnis catering, Onigiri Food management menjadikan nasi onigiri sebagai usaha utamanya. Nasi onigiri merupakan varian nasi yang diadaptasi dari Jepang. Akan tetapi Onigiri food Management telah memodifikasinya dengan menambahkan isian jamur didalamnya. Omset rata-rata onigiri sendiri antara 500 ribu - 1,5 juta per bulan. Dengan berbagai pertimbangan, saat ini basis onigiri telah dipindahkan ke kota lain yaitu ke Ponorogo.

Omset per bualan dari onigiri pun sampai saat ini mencapai 23 juta per bulan. Dengan berbekal pengalaman ini, Onigiri Food Management pun mengembangkan usahanya di bidang catering. Walaupun bisa dibilang masih start up, akan tetapi omset catering yang dirintis Eni bersama beberapa temannya ini cukup lumayan, yaitu 1-2 juta per bulan. Selain itu Eni juga mengelola program wirausaha yang dinamai Bangjo Entreprise. Ini merupakan sebuah usaha yang fokus kepada hasil grabah asli Jombang. Pemasarannya sampai saat ini masih fokus di daerah Jombang terutama sovenir yang dipamerkan di toko-toko oleh-oleh Jombang.

Bergabung di tengah managemen yang masih pasang surut membuat Eni harus benar-benar bisa menjadi nahkoda bagi usaha ini. Terlebih lagi pada tahun-tahun tersebut merupakan masa-masa skripsi bagi Eni dan tentu menjadi tantangan tersendiri yang harus dia lewati, membagi waktu antara usaha dan skripsi tak lantas membuat Eni tidak bisa berkembang. “Saat saya menerima onigiri dalam hidup saya, saya itu melihat onigiri itu memang masih kosong. Dulunya pernah ada namanya dan sekarang kosong,” ujar Eni.

Dari sini Eni harus mencari pegawai, mencari tim inti dan benar-benar memulainya dari nol lagi. Kehadiran onigiri seolah-olah menjadi ujian yang berat ketika impian Eni untuk menyelesaikan studinya 3,5 tahun. Tak sampai di situ saja, jam kerja yang benar-benar menguras waktu pun dilakoni Eni. Bagaimana tidak, Eni harus menyiapkan produk sejak jam 1 dini hari dan terus berlanjut hingga jam 11 malam. “Tidur cuma sampai 3 jam” ujarnya.

Catering yang tengah dirintis oleh Eni ini saat ini telah bermitra dengan 2 rumah makan di Surabaya. Banyak acara yang telah disuplai oleh catering ini, seperi PPKK, Masjid Al-Akbar Surabaya, dompet dhuafa, dan berbagai event-event kampus. Meskipun banyak pesaing di bidang ini akan tetapi Eni pun yakin dengan penerapan standar kualitas yang telah lama di terapkan oleh Onigiri Management Food, usaha ini bisa berkembang. diakui Eni penjagaan kualitas baik dari segi rasa, kebersihan merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh dalam menjaring konsumen yang loyal.

Nilai lebih inilah yang dijadikan Eni sebagai patokan untuk terus maju. Menurut Eni tolak ukur keberhasilan yang ia jalankan adalah mampu mengerti keinginan konsumen dan bisa memfasilitasinya dengan baik.

Eni pun berharap usaha yang ia jalankan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak. Ia memandang Onigiri Food Management bukanlah sebuah usaha yang selalu mengejar profit. Ia memandangnya sebagai sebuah gerakan sosial. “Kita berada di dalam masyarakat terus belajar. Terus juga inginnya lebih banyak berkontribusi misalnya kita sebagai penyalur produk, kita bisa berbagai rejeki,” tuturnya.

Semua ini tentu tidak didapatkan Eni dengan mudah. Ada peran PPKK yang turut membawanya menjadi seorang wirausaha seperti sekarang ini. “Peran PKKK sangat besar terutama didukung dalam hal dana. Nah dana ini kami gunakan ketika membutuhkan box untuk cetak brand dan untuk kembangkan image dari Onigiri Food Management.” ujarnya. Menjadi mahasiswa merupakan sebuah momentum yang sangat luar biasa. Saat kita menginginkan sesuatu langsung lakukan jangan ditunda-tunda. Dari mulai hal yang kecil sekalipun. Kalau itu baik lakukan, kalau itu jelek pikirkan lagi berkali-kali.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga